Jakarta -

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui potensi penjualan senilai USD 24,3 miliar kepada Arab Saudi untuk 48 jet tempur canggih F-35 Lightning II Joint Strike Fighter beserta peralatan terkait.

Arab Saudi sudah lama mengincar F-35, tetapi hingga saat ini Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang berhasil mengamankan akses ke jet tempur buatan Lockheed Martin tersebut, yang dianggap sebagai pesawat paling mematikan, berteknologi siluman, dan paling tangguh di dunia.

"Usulan penjualan peralatan dan dukungan ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan tersebut," kata Deplu AS yang dikutip detikINET dari NBC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kongres secara resmi diberitahu mengenai kemungkinan transfer pesawat militer canggih tersebut ke Arab Saudi, dan beberapa anggota parlemen menyuarakan kekhawatiran bahwa teknologi F-35 dapat diperoleh atau dicuri oleh China. Sebab, China memiliki kemitraan militer dengan kerajaan tersebut.

"Pemerintahan Trump tidak boleh melanjutkan usulan penjualan jet tempur F-35 ke Arab Saudi ketika komunitas intelijen kita sendiri memperingatkan bahwa hal itu dapat menempatkan mahkota teknologi militer Amerika dalam jangkauan China," kata Raja Krishnamoorthi, politisi Partai Demokrat, di media sosial.

"Beijing menghabiskan waktu puluhan tahun mencuri kekayaan intelektual dan teknologi Amerika untuk mengejar ketertinggalan dari AS dan kita tak boleh membantu mereka melakukannya. Kita tak boleh menjual jet tempur tercanggih kita ke mana pun di mana Partai Komunis China mungkin bisa mendapat teknologi di dalamnya," imbuhnya.

New York Times mengutip pernyataan para pejabat AS mengatakan bahwa analis intelijen memunculkan kemungkinan China bisa mendapatkan teknologi F-35 melalui aktivitas mata-mata di Arab Saudi atau melalui kemitraannya dengan kerajaan tersebut.

Pada masa jabatan keduanya, pemerintahan Trump memprioritaskan penjualan senjata ke Kerajaan tersebut sebagai penerima terbesar persenjataan AS.

Persetujuan pengiriman F-35 ini menyusul kesepakatan Arab Saudi membeli peralatan dan layanan militer senilai USD 142 miliar dari AS selama kunjungan Trump ke Riyadh pada Mei 2025 yang merupakan paket penjualan pertahanan terbesar dalam sejarah.

"Presiden Trump telah memperjelas Arab Saudi adalah jangkar bagi keamanan kawasan, dan peningkatan kemampuan angkatan bersenjata Saudi bermanfaat bagi keamanan AS serta kawasan yang lebih luas," ujar jubir Departemen Luar Negeri.

Arab Saudi berjuang memukul mundur pergerakan kelompok pemberontak Yaman yang didukung Iran, Houthi, yang telah meluncurkan serangan drone dan rudal ke wilayah Kerajaan tersebut.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mendesak Trump mengambil tindakan militer terhadap Houthi, tetapi sejauh ini AS menolak ikut serta dalam serangan militer tersebut.

(fyk/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA