Antisipasi kabut asap, PAUD-TK hingga Kelas 2 SD di Bukittinggi belajar dari rumah

Selasa, 8 September 2026 16:28 WIB

Image Print

Pantauan kondisi terkini Kota Bukittinggi tertutup kabut asap, Selasa (8/9). Pemerintah Kota Bukittinggi menerapkan pembelajaran dari rumah untuk pelajar PAUD, TK dan SD kelas 1 dan 2 untuk menjaga kondisi kesehatan siswa. ANTARA/AL FATAH

Bukittinggi (ANTARA) - Untuk mengantisipasi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi menerapkan sistem belajar dari rumah untuk pelajar PAUD, TK, serta kelas 1 dan 2 SD.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, Selasa (8/9) mengatakan kebijakan tersebut diterapkan berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bukittinggi.

"Ketika kita sudah berada di kondisi udara tidak sehat, maka kita memberikan kesempatan kepada anak-anak yang rentan untuk belajar dari rumah," kata Albertiusman.

Kebijakan belajar dari rumah ditujukan kepada peserta didik usia dini dan siswa kelas rendah karena kelompok tersebut dinilai lebih rentan terhadap dampak kualitas udara yang tidak sehat.

Meski belajar dari rumah, siswa tetap mengikuti pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku dengan instrumen pembelajaran yang telah disiapkan guru.

Sementara itu, siswa kelas 3 SD hingga kelas 9 tetap mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menerapkan langkah perlindungan selama kondisi udara tidak sehat.

Albertiusman mengatakan siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka diwajibkan menggunakan masker dan lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan.

"Untuk yang belajar tatap muka, tetap memakai masker, aktivitasnya berada dalam ruangan, kemudian tetap mencuci tangan," ujarnya.

Selain penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan, siswa juga dianjurkan menjaga asupan selama kondisi kualitas udara terdampak kabut asap.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi menganjurkan siswa mengonsumsi makanan bergizi, buah dan sayuran serta memperbanyak minum air.

Albertiusman mengatakan penerapan belajar dari rumah tidak bersifat permanen karena keputusan tersebut mengikuti perkembangan kualitas udara di Kota Bukittinggi.

"Kalau kondisi udara bagus, maka pelajar diminta masuk. Tapi ketika meningkat atau tetap dalam kondisi kurang sehat, anak-anak sudah harus belajar dari rumah," katanya.