Jakarta -
Anak Krakatau ternyata tidak tumbuh secara simetris sejak awal kemunculannya. Bentuk dasar laut tempat gunung api ini tumbuh membuat material lebih cepat menumpuk di satu sisi, sementara sisi lainnya berkembang lebih lambat.
Pola pertumbuhan selama hampir 100 tahun itu kini menjadi petunjuk penting bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana Anak Krakatau akan berkembang di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Prof Sebastian Watt dari University of Birmingham dalam pemaparannya mengenai perkembangan Anak Krakatau di webinar 'Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau: Sistem Magmatik, Sejarah Evolusi, dan Pemantauan Tsunami Real-time'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi geologi tempat Anak Krakatau berdiri sejak awal sudah membuat gunung api tersebut memiliki bentuk yang tidak simetris.
Anak Krakatau tumbuh di tepi area kaldera yang terbentuk setelah letusan Krakatau 1883. Di sisi timur laut, dasar laut relatif dangkal sehingga material hasil erupsi dapat menumpuk lebih cepat. Sebaliknya, di sisi barat daya, material terakumulasi di perairan yang lebih dalam sehingga pertumbuhannya lebih lambat.
"Jadi sejak hari-hari awalnya, gunung api ini sudah memiliki ketidaksimetrian karena bentuk dasar laut tempatnya tumbuh. Ketidaksimetrian itu kemudian memengaruhi lokasi akumulasi lava ketika lubang erupsinya sudah berada di atas permukaan laut, dan pada akhirnya struktur tersebut memengaruhi bagaimana gunung api menjadi tidak stabil pada 2018," ujar Watt, Senin (14/9/2026).
Rekam Jejak 100 Tahun
Untuk memahami perubahan tersebut, tim peneliti memanfaatkan catatan sejarah Anak Krakatau yang sangat rinci. Peta, foto, catatan erupsi, citra satelit hingga pemetaan drone digunakan untuk merekonstruksi perubahan bentuk gunung api dari waktu ke waktu.
Rekaman tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau aktif secara persisten sejak kemunculannya. Erupsi terjadi setiap beberapa tahun, meski sesekali terdapat jeda yang bisa mencapai sekitar satu dekade.
Pola aktivitasnya juga berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung api, termasuk perubahan dari fase yang banyak berinteraksi dengan air laut menjadi aktivitas ketika kawah sudah berada di atas permukaan laut.
Pada 1950-an, bentuk Anak Krakatau masih terlihat asimetris. Memasuki 1960-an, material mulai lebih banyak terakumulasi di sisi barat daya sehingga bentuknya menjadi lebih mendekati simetris.
Namun, sisi barat daya inilah yang kemudian mengalami keruntuhan besar pada 2018. Setelah runtuh, bagian tersebut kembali kehilangan material dalam jumlah besar dan kemudian kembali tumbuh dengan cepat.
Data historis juga memperlihatkan perubahan laju pertumbuhan. Hingga sekitar 1960, laju pertumbuhan berdasarkan volume pulau relatif stabil. Setelah itu, laju pertumbuhan melambat, yang oleh Watt ditafsirkan sebagai indikasi semakin banyak magma yang tersimpan di dalam kerak dan lebih sedikit yang mencapai permukaan.
Keruntuhan di 2018 kemudian mengubah pola tersebut secara drastis. Setelah keruntuhan, laju erupsi meningkat sangat tinggi sebelum kemudian tampak mulai melambat. Watt menekankan bahwa periode pasca-2018 masih relatif awal sehingga laju pertumbuhan tersebut perlu terus dipantau.
Data itu menjadi penting karena para ilmuwan tidak hanya melihat seberapa besar Anak Krakatau sekarang, tetapi juga bagaimana bentuk dan volumenya berubah dari waktu ke waktu.
"Perilaku masa lalu, struktur masa lalu, serta pengetahuan mengenai ketidakstabilan masa lalu memberikan konteks penting untuk melacak perkembangannya di masa depan," kata Watt.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga tidak cukup hanya melihat ukuran tubuh gunung api. Bentuk permukaan dan kondisi di bawah permukaan sama-sama penting.
"Pada dasarnya, kita dapat memahami seluruh evolusi Anak Krakatau dengan sangat rinci. Secara global, ini adalah kumpulan data yang sangat tidak biasa dan bahkan mungkin unik dalam hal pemahaman tentang bagaimana gunung api ini berubah," ujarnya.
Dengan rekam jejak hampir satu abad tersebut, ilmuwan dapat membandingkan aktivitas Anak Krakatau saat ini dengan fase-fase pertumbuhannya sebelumnya.
Data dari erupsi masa lalu juga dapat dipadukan dengan informasi kimia dan tekstur material vulkanik untuk melihat apakah kondisi magma saat ini masih mengikuti pola sebelumnya.
Watt menegaskan bahwa catatan masa lalu bukan berarti dapat memberikan ramalan pasti mengenai erupsi atau keruntuhan berikutnya. Namun, sejarah pertumbuhan tersebut memberikan dasar untuk membaca perubahan yang terjadi sekarang dan mengidentifikasi bagaimana Anak Krakatau mungkin terus berkembang.
"Jika kita memahami gunung api sebelum 2018, itu menjadi panduan penting untuk menafsirkan aktivitas di masa depan," tutup Watt.
(rns/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA