Jakarta, CNBC Indonesia - Huawei memperkirakan agen kecerdasan buatan (AI) akan menyumbang lebih dari 90% trafik token AI global pada 2035. Kondisi ini akan mendorong kebutuhan daya komputasi dalam jumlah besar, sekaligus sistem baru untuk memastikan perangkat lunak yang bekerja secara mandiri tetap aman dan dapat dikendalikan.

Dalam laporan terbarunya berjudul Intelligent World 2035: Turning Vision into Action, Huawei mengatakan konsumsi token AI akan melonjak dalam satu dekade ke depan. Token merupakan unit yang diproses model AI ketika menerima maupun menghasilkan informasi.

Perusahaan menilai lonjakan tersebut terjadi karena agen AI akan terus mengamati lingkungan, melakukan penalaran, mengambil keputusan, serta memanggil berbagai perangkat atau layanan eksternal secara mandiri.

Perkembangan ini berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai kemampuan agen AI yang makin otonom. Sejumlah peneliti dan eksekutif AI di AS sebelumnya menyebut soal perlambatan pengembangan AI terdepan setelah muncul insiden yang melibatkan agen AI dan peringatan bahwa sistem masa depan dapat mengoperasikan perangkat keras serta memperoleh sumber daya secara mandiri sehingga semakin sulit dikendalikan manusia.

Namun, laporan Huawei tidak menyerukan perlambatan pengembangan AI. Sebaliknya, Huawei memperkirakan kemampuan dan penggunaan agen AI akan berkembang pesat. Perusahaan tersebut memasukkan keamanan dan perlindungan privasi agen otonom sebagai salah satu dari 10 teknologi yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan tersebut.

Menurut Huawei, dikutip dari , pendekatan ini mencerminkan perbedaan pandangan yang lebih luas mengenai kecepatan pengembangan AI. Sebagian industri teknologi AS tengah membahas pembatasan terkoordinasi terhadap peningkatan kemampuan AI terdepan. Sementara itu, China secara umum mendorong percepatan adopsi AI di berbagai sektor ekonomi sembari membangun standar teknis untuk menghadapi risiko teknologi yang berkembang.

Huawei juga menilai penerapan AI ke dunia fisik menjadi bagian penting untuk mencapai artificial general intelligence (AGI). Istilah tersebut umumnya merujuk pada sistem yang mampu menjalankan berbagai tugas pada tingkat manusia atau bahkan melampauinya.

Laporan tersebut juga menyebut soal proyeksi perusahaan sebelumnya bahwa akan ada sekitar 900 miliar agen AI yang aktif secara global pada 2035. Jumlah tersebut diperkirakan sekitar 100 kali lipat dari populasi manusia yang diproyeksikan pada periode tersebut.

Huawei sendiri mulai menggunakan agen AI dalam sistem keamanan sibernya. Pada April lalu, perusahaan meluncurkan platform operasi keamanan otonom yang menggunakan agen untuk mendeteksi dan merespons ancaman siber.

Huawei juga telah mengusulkan penggunaan AI firewall untuk melindungi sistem AI yang digunakan perusahaan.

Ketua Dewan Pengawas Huawei, Guo Ping, dalam pernyataan kepada karyawan, menyebut AI sebagai peluang terbesar bagi perusahaan.

Ia juga mengatakan Huawei ingin infrastruktur komputasinya menjadi padanan Nvidia, perusahaan pembuat chip AI asal Amerika Serikat, di China.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]