Jadi belum sempat menjadi buah, jangankan buah, jadi bunga saja tidak sempat karena kekurangan dan kekeringan air, ia (tanaman) akan mati, akhirnya gagal panen.
Mataram (ANTARA) - Akademisi Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Mataram Hilman Ahyadi mengingatkan musim kemarau panjang berpotensi menurunkan produktivitas tanaman pertanian akibat terbatasnya ketersediaan air untuk irigasi.
"Jadi belum sempat menjadi buah, jangankan buah, jadi bunga saja tidak sempat karena kekurangan dan kekeringan air, ia (tanaman) akan mati, akhirnya gagal panen," ujarnya di Mataram, Sabtu.
Hilman menjelaskan kekurangan air akibat kemarau panjang membuat tanaman mengalami dehidrasi, sehingga pertumbuhan dan produktivitas tanaman terganggu.
Dampak gagal panen tersebut tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi dapat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan. Hasil panen yang berkurang berpotensi menurunkan stok beras atau pangan, sehingga harga pangan atau beras dapat mengalami kenaikan.
Baca juga: Tiga wilayah NTB berpeluang hujan di tengah El Nino
Selain berdampak pada produktivitas tanaman, imbuh dia, musim kemarau panjang juga mempengaruhi keberadaan hama. Kondisi lahan yang kering dan berkurangnya sumber makanan membuat hama cenderung bermigrasi ke wilayah yang masih memiliki sumber makanan dan air.
"Kalau lahannya kering tidak ada makanan, maka mereka (hama) cenderung bermigrasi... Kemungkinan tidak terlalu banyak, karena faktor yang utama dari pertanian itu masalah air atau kekeringan," kata Hilman.
Lebih lanjut dia mengungkapkan hama yang berasal dari dalam tanah juga terdampak kondisi tanah yang semakin kering. Kekurangan air dapat menyebabkan sebagian hama mati, sedangkan hama yang mampu bertahan berpotensi berpindah ke wilayah yang memiliki sumber makanan atau dekat dengan sumber air.
Baca juga: El Nino kuat picu hujan nyaris nihil di NTB
Hilman menambahkan kemarau panjang tidak serta-merta meningkatkan risiko penyakit tanaman. Dampak yang lebih dominan justru kekurangan air yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan risiko gagal panen.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berpeluang berlangsung hingga akhir November 2026.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan musim hujan yang biasanya terjadi pada November diperkirakan mengalami kemunduran hingga Desember akibat pengaruh El Nino sangat kuat dengan indeks mencapai +2,74 derajat Celcius.
Baca juga: Mentan sebut produksi dan surplus beras terjaga
Pewarta : Santani PKL IAHN Mataram
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026