Akademisi: Stabilitas pasokan pangan kunci harga tetap wajar
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Imamudin Yuliadi menilai stabilitas pasokan pangan dan kelancaran distribusi merupakan kunci agar harga pangan tetap wajar dalam mekanisme pasar yang sehat dan berkelanjutan.
"Perlu menjaga stabilitas pasokan barang serta memperlancar rantai distribusi pangan sehingga mekanisme pasar dapat membentuk harga secara wajar," kata Imamudin dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Menurutnya kenaikan permintaan bahan pangan seiring kembali bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) pascalibur sekolah 2026 merupakan fenomena pasar yang wajar.
Dia menuturkan selama peningkatan permintaan berlangsung dalam mekanisme pasar yang sehat, maka kondisi itu justru menjadi hal yang baik bagi petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM pangan.
Imamudin mengatakan peningkatan permintaan pangan akibat beroperasinya kembali program MBG merupakan bentuk dinamika ekonomi yang lazim terjadi.
"Dorongan permintaan pangan untuk MBG merupakan sinyal positif bagi pelaku ekonomi, terutama petani dan peternak, karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka," ujar Imamudin.
Menurut dia, selama interaksi permintaan dan penawaran berlangsung normal, maka harga yang sedikit lebih tinggi justru memberikan insentif bagi produsen untuk meningkatkan produksi.
Di sisi lain, kata dia, dampaknya terhadap konsumen masih dapat ditoleransi apabila kenaikan berlangsung dalam batas yang wajar dan tidak dipicu oleh gangguan distribusi maupun praktik spekulasi.
Imamudin menilai pemerintah memiliki peran penting agar mekanisme pasar tetap berjalan sehat. Fokus utama pemerintah bukan mengendalikan harga secara berlebihan, melainkan memastikan pasokan pangan tetap tersedia dan distribusi berjalan lancar.
Selain itu, perhatian terhadap sektor produksi dinilai tidak kalah penting. Perlu memastikan ketersediaan pupuk dengan harga yang terjangkau sehingga keuntungan dari kenaikan harga benar-benar dapat dirasakan para petani.
Ia menambahkan kebijakan serupa juga perlu diberikan kepada pelaku ekonomi lain seperti nelayan dan UMKM agar efek berganda dari program MBG dapat dirasakan secara lebih luas.
"Meningkatnya permintaan pangan akibat MBG seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat fondasi ekonomi daerah," tegasnya.
Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi produksi, pemangkasan rantai distribusi yang tidak rasional, serta penguatan struktur pasar agar lebih sehat dan kompetitif.
Dengan cara itu, kata dia, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus membuka lapangan kerja baru.
"Efisiensi produksi harus ditingkatkan, jalur distribusi yang tidak rasional dipotong, dan struktur pasar diperkuat sehingga tercipta ekosistem ekonomi daerah yang produktif sekaligus menciptakan peluang kerja baru," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan program MBG dapat menjadi instrumen ekonomi yang menggerakkan ekonomi rakyat di seluruh Indonesia dengan syarat memiliki tata kelola yang transparan, akuntabel, dan andal.
"Persiapan bahan pangan harus dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir sehingga mampu memperkuat ekonomi pertanian dan industri pengolahan pangan," kata dia.
Pada akhirnya, tambah Imamudin, kualitas gizi anak meningkat, masyarakat lebih sehat, ekonomi rakyat tumbuh seimbang, dan perekonomian Indonesia semakin tumbuh.
Baca juga: Bapanas ajak Pemda jaga stabilitas pasokan dan harga pangan
Baca juga: ID Food bidik 15.360 mitra Warung Pangan di seluruh Indonesia
Baca juga: Pemerintah dorong 27 ribu mitra Warung Pangan bantu stabilisasi harga
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.