Jakarta (ANTARA) - AirNav Indonesia dan Telkom University memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) serta keamanan siber untuk mendukung efisiensi operasional dan keselamatan navigasi penerbangan.

Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama tentang optimalisasi laboratorium dan penelitian bersama untuk pengembangan teknologi kecerdasan artifisial dan keamanan siber. 

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat pada Jumat mengatakan pemanfaatan AI dalam layanan navigasi penerbangan diarahkan untuk membantu mempercepat pekerjaan tanpa menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan yang berkaitan langsung dengan keselamatan.  

"Dalam penerbangan, keselamatan merupakan prioritas utama. Seiring dengan waktu, keselamatan juga harus berjalan bersama efisiensi dan keberlanjutan," kata Zainal.  

Ia menjelaskan AI dapat dimanfaatkan sebagai perangkat pendukung untuk menyederhanakan proses kerja, tetapi keputusan yang menyangkut keselamatan penerbangan tetap berada di tangan manusia.   

Menurut Zainal, kerja sama AirNav Indonesia dan Telkom University merupakan tindak lanjut nota kesepahaman mengenai pengembangan, pengelolaan, dan peningkatan teknologi informasi yang ditandatangani pada 2024.  

Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup optimalisasi laboratorium, penelitian dan pengembangan bersama, penerapan hasil penelitian, serta pertukaran pengetahuan, keahlian, dan informasi sesuai kebutuhan kedua pihak.  

"Kami tidak ingin teknologi dikembangkan hanya karena teknologinya ada. Yang paling penting adalah apakah ini memang dibutuhkan dan bisa membantu pekerjaan kita. Itu yang kita lihat dalam kerja sama dengan Telkom University," ujarnya.  

Salah satu hasil kolaborasi tersebut adalah pengembangan prototipe NOTAM AI Generator yang diinisiasi sejak 2024 dan menjalani peluncuran awal pada 2025.  

Teknologi itu dikembangkan untuk membantu mempercepat proses pembuatan Notice to Airmen (NOTAM), yakni pemberitahuan informasi penting bagi personel terkait operasi penerbangan.  

Dengan bantuan AI, proses pembuatan NOTAM dapat dilakukan sekitar satu menit sebelum hasilnya diperiksa dan diverifikasi oleh validator. 

Selain itu, AirNav Indonesia dan Telkom University mengembangkan sistem penjadwalan otomatis berbasis teknologi digital untuk mengatur jadwal kerja personel Air Traffic Control (ATC) atau pemandu lalu lintas udara.  

Zainal mengatakan penggunaan AI untuk penjadwalan diperlukan karena pengaturan jadwal personel ATC melibatkan banyak pekerja serta ketentuan waktu kerja dan istirahat yang harus dipenuhi.

"Selain menjajaki pengimplementasian NOTAM AI, saat ini kami juga sedang menyusun aplikasi berbasis AI untuk penjadwalan dan pengaturan tugas personel ATC," katanya.

Ia menjelaskan personel ATC tidak boleh bekerja secara nonstop selama dua jam dan jeda antarsif untuk satu personel tidak boleh kurang dari 15 jam.

Dengan banyaknya jumlah personel yang harus dijadwalkan, penggunaan teknologi AI diharapkan dapat membantu proses pengaturan menjadi lebih efisien dibandingkan dengan cara manual.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman mengapresiasi kolaborasi AirNav Indonesia dengan perguruan tinggi untuk menghasilkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi industri.

Menurut Fauzan, penelitian perlu berangkat dari masalah yang jelas agar hasilnya dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi pengguna.

"Kuncinya, kalau kita tidak tahu apa yang akan dipecahkan, jangan melakukan riset. Pada awalnya AirNav berani mengambil risiko karena melibatkan kampus. Tetapi, post benefit-nya tinggi sekali," ujarnya.

Ia mengatakan model kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat untuk mendukung kemandirian serta meningkatkan daya saing teknologi Indonesia.

Fauzan juga mendorong perguruan tinggi dan industri untuk mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penyelesaian sebelum mengembangkan teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, riset diharapkan tidak berhenti pada pengembangan prototipe, tetapi berlanjut hingga menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Wakil Rektor IV Telkom University Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Angga Rusdinar mengatakan hasil penelitian bersama AirNav Indonesia tidak langsung diterapkan dalam operasional, tetapi harus melalui tahapan pengujian, evaluasi, dan validasi sesuai kebutuhan serta kriteria yang disepakati.

"AirNav Indonesia memiliki kebutuhan nyata. Bagi kami, itu penting karena riset yang baik harus punya persoalan yang jelas untuk diselesaikan. Karena itu, kerja sama ini bukan hanya untuk menghasilkan penelitian, tetapi juga bagaimana hasilnya bisa digunakan," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Telkom University memberikan penghargaan kepada AirNav Indonesia atas kontribusi dan dukungannya dalam pengembangan kolaborasi riset, teknologi, dan inovasi di bidang kecerdasan artifisial serta keamanan siber.

Penghargaan tersebut diterima Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt. Nurcahyo Utomo yang mewakili perusahaan.

Forum SATRIA 2026 mengangkat tema Connecting Leaders, Research, and Industry for Trustworthy AI dan mempertemukan pemerintah, industri, perguruan tinggi, serta peneliti untuk memperkuat kolaborasi riset, pengembangan talenta, dan penerapan teknologi AI serta keamanan siber.

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.