AI untuk Pertama Kalinya Dipakai Merancang Virus Baru, 16 Bakteriofag Berhasil Dibuat
Bagikan:
JAKARTA - Kecerdasan buatan atau AI kini masuk lebih jauh ke dunia biologi. Ilmuwan di Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan AI generatif untuk merancang virus baru yang tidak ditemukan di alam.
Anadolu Agency dikutip Jumat, 7 Agustus, melaporkan, penelitian tersebut dilakukan ilmuwan dari Stanford University dan Arc Institute di California. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Science.
Para peneliti menggunakan model AI generatif yang dilatih dengan jutaan genom alami untuk merancang bakteriofag secara utuh.
Bakteriofag adalah virus yang menginfeksi bakteri dan dapat memperbanyak diri di dalamnya. Sementara genom merupakan keseluruhan materi genetik yang membawa informasi biologis suatu organisme.
Dalam penelitian itu, ilmuwan memakai dua model bahasa genom bernama Evo 1 dan Evo 2.
Cara kerjanya mirip large language model atau LLM yang digunakan dalam AI generatif. Bedanya, Evo 1 dan Evo 2 tidak memprediksi rangkaian kata, melainkan urutan genetik.
Data pelatihannya berasal dari genom virus, bakteri, hingga organisme yang lebih kompleks seperti tumbuhan dan hewan.
BACA JUGA:
Para peneliti kemudian menyintesis hampir 300 genom secara kimia dan mengujinya di laboratorium.
Eksperimen itu menghasilkan 16 bakteriofag hasil rekayasa dengan urutan, struktur, serta kemampuan bertahan dan berkembang yang berbeda.
Saat diuji, bakteriofag hasil rekayasa tersebut lebih efektif membunuh bakteri E. coli dibandingkan virus alami yang digunakan sebagai pembanding.
Studi yang dikutip Anadolu Agency menyebut pendekatan tersebut dapat memperluas kemampuan genomika sintetis, yakni bidang yang merancang atau menyusun materi genetik secara buatan.
Para peneliti juga melihat peluang penggunaan metode ini untuk mengembangkan terapi fag, yaitu pemanfaatan bakteriofag untuk melawan bakteri penyebab penyakit.
“Pendekatan kami memperluas apa yang dapat dicapai genomika sintetis, membuka jalan bagi terapi fag yang adaptif dan tahan terhadap patogen yang berkembang cepat, serta membangun dasar bagi perancangan genom yang lebih besar dan lebih kompleks,” tulis para peneliti.
Mereka mengatakan penelitian ini masih menjadi langkah awal. Metode serupa ke depan dapat dikembangkan untuk pengurutan dan sintesis genom pada sistem biologis yang lebih besar serta pengembangan terapi.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+