Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pertumbuhan pusat data atau data center membawa tantangan baru bagi sistem kelistrikan di Asia Tenggara. Kebutuhan komputasi yang semakin besar membuat konsumsi energi ikut meningkat, sementara negara-negara di kawasan juga mendorong penggunaan sumber energi yang lebih bersih.
Baca Juga
Data center membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil untuk menjaga operasional server serta berbagai infrastruktur digital. Kebutuhan tersebut berpotensi semakin tinggi seiring meluasnya penggunaan AI, terutama untuk menjalankan model dengan kebutuhan komputasi besar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi ini membuat pengembangan ekonomi digital tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur energi. Bukan hanya kapasitas pembangkit yang perlu diperhatikan, tetapi juga kemampuan jaringan transmisi dan distribusi dalam menyalurkan listrik ke lokasi dengan konsentrasi data center.
Baca Juga
Persoalan tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 yang berlangsung pada 22-24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, regulator, perusahaan utilitas, investor, penyedia teknologi, serta pelaku industri energi dari Indonesia dan berbagai negara. Salah satu jalur konferensi yang disiapkan membahas digitalisasi dan AI dalam sektor ketenagalistrikan.
Baca Juga
"Pertumbuhan data center dan AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur ketenagalistrikan yang andal menjadi semakin penting," ujar Siti Karmila, General Manager ICE BSD City, dikutip Senin 5 Oktober 2026.
Selain digitalisasi dan AI, forum tersebut membahas modernisasi jaringan, pembangkitan energi bersih, dekarbonisasi industri, serta berbagai tantangan dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh.
Pengembangan energi terbarukan juga menjadi bagian dari persoalan tersebut. Sumber energi seperti tenaga surya dan angin memiliki karakter produksi yang bergantung pada kondisi alam, sehingga diperlukan jaringan yang lebih fleksibel untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Teknologi smart grid menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menghadapi perubahan tersebut. Digitalisasi memungkinkan operator memantau kondisi jaringan, mengelola permintaan listrik, serta mengintegrasikan berbagai sumber pembangkit secara lebih efektif.
Dengan pertumbuhan AI dan data center, kebutuhan listrik di kawasan Asia Tenggara tidak lagi hanya berbicara mengenai penambahan kapasitas energi. Keandalan jaringan, kemampuan menyalurkan daya, fleksibilitas sistem, dan sumber energi yang digunakan turut menjadi faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi digital.
Prediksi Bola Pakai AI Makin Populer, Seberapa Akurat Menebak Hasil Pertandingan?
Prediksi bola berbasis AI makin populer karena mampu mengolah statistik dan peluang. Namun, seberapa akurat hasilnya? Simak cara kerja, kelebihan, dan batasan AI.
VIVA.co.id
6 Oktober 2026