Jakarta (ANTARA) - Sepulang dari Forum Digital Dunia di Moskow, Peneliti UI dorong audit reputasi AI, perlindungan data klien, dan sertifikasi profesi: praktisi humas harus naik kelas dari pembuat konten menjadi penjaga kepercayaan.
Kecerdasan artifisial (AI) dapat menghasilkan iklan dalam sepuluh detik, menyusun siaran pers dalam sekejap, bahkan membuat wajah manusia yang tampak nyata. Namun, ada satu kemampuan yang tidak otomatis dimiliki mesin mengembalikan kepercayaan publik ketika organisasi melakukan kesalahan.
Peringatan tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, saat menjadi pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow.
Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi dunia.
Devie, yang telah berbicara di berbagai forum internasional diantaranya di Australia, Belanda, Inggris, Jepang, Malaysia ini menilai industri public relations (PR) sedang menghadapi perubahan paling mendasar yaitu dari persaingan memproduksi informasi menuju tanggung jawab membuktikan kebenaran.
“AI dapat membuat organisasi semakin sering dibicarakan. Tetapi hanya keputusan dan tindakan yang benar yang membuat organisasi layak dipercaya,” ujar Devie.
Viral Menuju Vital: Reputasi Bukan Sekadar Tayangan
Devie mengingatkan bahwa popularitas digital tidak selalu berbanding lurus dengan reputasi.
Wakil Indonesia di PR Leadership Forum di San Fransisco ini mencontohkan, perusahaan yang menghasilkan satu juta tayangan positif menggunakan AI, tetapi membiarkan seribu keluhan pelanggan tanpa penyelesaian. Kampanyenya mungkin berhasil, namun persoalan kepercayaannya tetap ada.
Menurutnya, profesi PR harus bergerak dari sekadar mengelola pemberitaan menjadi mitra strategis pimpinan dalam memperbaiki kebijakan, pelayanan, dan hubungan dengan masyarakat.
“PR masa depan bukan yang paling pandai membuat organisasi dipuji, tetapi yang paling mampu membuat organisasi pantas dipuji.”
Lima Ancaman AI bagi Industri Komunikasi
Merujuk kajian praktik industri Folks Strategic, Devie menyoroti lima persoalan yang perlu segera diantisipasi yaitu kebocoran atau penyalahgunaan data klien, penggunaan wajah dan suara tanpa persetujuan, kesalahan hasil produksi AI, dampak penggunaan energi, serta kesenjangan keterampilan pekerja kreatif.
Kajian tersebut merupakan identifikasi risiko praktik industri, bukan survei yang mewakili seluruh perusahaan komunikasi Indonesia.
Devie menilai kesalahan kecil dapat memiliki konsekuensi besar. Satu huruf yang berubah pada kemasan produk, satu identitas yang digunakan tanpa izin, atau satu dokumen rahasia yang dimasukkan ke layanan AI tanpa pengamanan dapat berkembang menjadi krisis reputasi.
“AI membuat produksi semakin murah, tetapi kesalahan dapat membuat kepercayaan semakin mahal.”
Karena itu, penerima Australia Award ini mendorong penerapan pemeriksaan manusia sebelum publikasi, pengamanan data klien, transparansi konten sintetis, dan audit reputasi AI secara berkala.
LSP PRI: Sertifikasi Menjadi Semakin Relevan
Devie mengapresiasi kontribusi Lembaga Sertifikasi Profesi Public Relations Indonesia (LSP PRI) dalam memperkuat profesionalisme praktisi komunikasi.
Lembaga yang mengembangkan skema sertifikasi kompetensi berlisensi BNSP tersebut menilai praktisi bukan hanya dari pengetahuan, tetapi juga keterampilan, kemampuan berpikir strategis, dan etika profesi.
Menurut Devie, pendekatan ini semakin relevan ketika AI mampu mengambil alih sebagian pekerjaan teknis komunikasi.
“Di era AI, kemampuan membuat konten bukan lagi pembeda utama. Yang semakin menentukan adalah kemampuan menilai risiko, mengambil keputusan, menjaga etika, dan mempertanggungjawabkan dampaknya. Karena itu, penguatan standar kompetensi dan sertifikasi profesi seperti yang dikembangkan LSP PRI patut diapresiasi.”
Muslim Basya dan Pentingnya Kepemimpinan PR
Devie turut memberikan apresiasi kepada Muslim Basya, sebagai salah satu tokoh PR yang konsisten mendorong penguatan standar dan kompetensi profesi hubungan masyarakat di Indonesia.
Muslim Basya sebelumnya menekankan bahwa sertifikasi membantu memastikan praktisi mampu menjaga dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta penerapannya dengan tetap memperhatikan etika dan ketentuan organisasi.
“Kontribusi sosok seperti Bapak Muslim Basya penting karena profesionalisme tidak lahir hanya dari pengalaman bekerja, namun juga membutuhkan standar, pembelajaran berkelanjutan, dan kesediaan untuk diuji. Ketika teknologi berubah begitu cepat, fondasi profesi justru harus semakin kokoh,” ujar Devie.
Jangan Jadi Pabrik Konten, Jadilah Arsitek Kepercayaan
Devie juga mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin sering memperoleh informasi langsung dari jawaban AI, bukan hanya melalui mesin pencari.
Perubahan dari search economy menuju answer economy membuat organisasi perlu memastikan informasi resminya akurat, mutakhir, konsisten, dan dapat diverifikasi.
Alumni penerima beasiswa DAAD Jerman ini mendorong perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga sertifikasi, dan industri komunikasi untuk bersama-sama memperbarui kompetensi PR, termasuk tata kelola AI, perlindungan data, manajemen krisis, dan audit reputasi digital.
“Dunia tidak kekurangan konten, namun yang semakin langka adalah kepercayaan. Karena itu, praktisi komunikasi harus berani naik kelas, dari pembuat pesan menjadi penjaga integritas organisasi.”
Wakil Indonesia dalam pertemuan di OECD Paris ini menutup dengan “AI boleh semakin pintar membuat kata. Tetapi manusia harus semakin bijak menjaga fakta. Teknologi boleh mempercepat cerita. Namun, hanya integritas yang mampu merawat percaya.”
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.