Jakarta (ANTARA) - Tidur merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Namun, sejak kecil banyak orang juga tumbuh dengan berbagai nasihat dan anggapan tentang tidur yang belum tentu benar.

Misalnya, ada yang percaya bahwa mendengkur berarti seseorang tidur nyenyak, tidur di akhir pekan bisa sepenuhnya menggantikan waktu tidur yang hilang, atau otak benar-benar berhenti bekerja ketika seseorang terlelap.

Padahal, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa sejumlah anggapan tersebut hanyalah mitos. Bahkan, beberapa di antaranya bisa membuat seseorang memiliki kebiasaan tidur yang kurang baik.

Baca juga: Kopi terakhir sebaiknya jam berapa? Ini waktu yang tepat

Baca juga: Jenis suplemen berikut dapat bantu tidur jadi lebih nyenyak

Berikut tujuh mitos tentang tidur yang masih sering dipercaya.

1. Mendengkur berarti tidurnya nyenyak

Mendengkur sering dianggap sebagai tanda seseorang tidur sangat pulas. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.

Menurut National Institutes of Health (NIH), mendengkur pada dasarnya bisa saja tidak berbahaya. Namun, pada sebagian orang, mendengkur keras dapat menjadi tanda sleep apnea, yaitu gangguan ketika pernapasan berhenti sementara selama tidur.

Kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas tidur dan menyebabkan seseorang tetap merasa lelah pada siang hari. Karena itu, mendengkur keras yang disertai jeda napas sebaiknya tidak dianggap sebagai tanda tidur yang berkualitas.

2. Tidur lebih lama di akhir pekan bisa mengganti semua utang tidur

Siapa yang suka "balas dendam" tidur saat akhir pekan? Kebiasaan ini memang bisa membuat tubuh terasa lebih segar setelah beberapa hari kurang tidur, tetapi bukan berarti seluruh dampak kurang tidur sebelumnya langsung hilang.

NIH juga menjelaskan bahwa tidur lebih lama pada waktu lain dapat membantu mengurangi rasa kantuk, tetapi tidak sepenuhnya membalikkan dampak dari kekurangan tidur atau kualitas tidur yang buruk secara terus-menerus.

Karena itu, lebih baik menjaga waktu tidur yang cukup secara rutin daripada terus-menerus mengandalkan tidur panjang di akhir pekan.

3. Orang yang sudah terbiasa tidur sedikit tidak akan terkena dampaknya

Ada anggapan bahwa tubuh lama-lama akan terbiasa tidur hanya beberapa jam setiap malam. Padahal, merasa sudah terbiasa tidak selalu berarti tubuh benar-benar tidak terdampak.

Penelitian yang melibatkan para ahli tidur mengidentifikasi anggapan bahwa banyak orang dewasa hanya membutuhkan lima jam tidur atau kurang sebagai salah satu mitos yang cukup penting untuk diluruskan. Kekurangan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi fungsi tubuh dan kemampuan seseorang beraktivitas.

Jadi, rasa "sudah biasa" tidur sebentar bukan berarti kebutuhan tidur menjadi hilang.

Baca juga: Sulit tidur? Hindari 7 makanan & minuman ini sebelum berbaring

4. Otak berhenti bekerja ketika kita tidur

Dari luar, orang yang tidur memang terlihat seperti sedang benar-benar tidak melakukan apa-apa. Namun, otak sebenarnya tetap aktif selama tidur.

Tidur melibatkan berbagai proses biologis. Otak mengalami perubahan aktivitas selama berbagai tahap tidur, termasuk fase REM (rapid eye movement). Pada fase ini, aktivitas sejumlah bagian otak dapat meningkat dan berkaitan dengan proses seperti pembelajaran dan memori.

Jadi, tidur bukan sekadar kondisi ketika tubuh "dimatikan" untuk beristirahat.

5. Mimpi hanya terjadi saat fase REM

Mimpi memang sering dikaitkan dengan fase REM karena mimpi biasanya terasa lebih hidup pada fase tersebut. Namun, bukan berarti mimpi hanya terjadi ketika seseorang memasuki REM.

Menurut NICHD, aktivitas bermimpi juga dapat terjadi selama tidur non-REM. Penelitian mengenai tidur bahkan menunjukkan bahwa pengalaman bermimpi tidak sesederhana pembagian antara tidur REM dan non-REM.

Jadi, kalau tidak mengingat mimpi setelah bangun, bukan berarti seseorang tidak bermimpi.

6. Kalau bisa langsung tertidur di mana saja, berarti kualitas tidur bagus

Ada orang yang menganggap bisa tertidur kapan saja dan di mana saja sebagai kemampuan yang bagus. Padahal, mudah sekali tertidur pada siang hari bisa menjadi tanda tubuh kekurangan tidur.

Penelitian mengenai mitos tidur menyebut kemampuan untuk tertidur "kapan saja, di mana saja" justru dapat berkaitan dengan rasa kantuk berlebihan pada siang hari akibat kurang tidur.

Karena itu, rasa kantuk yang berlebihan sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda seseorang memiliki kemampuan tidur yang baik.

7. Semakin tua, semakin sedikit waktu tidur yang dibutuhkan

Anggapan ini juga cukup sering terdengar sejak dulu. Faktanya, pola tidur memang dapat berubah seiring bertambahnya usia, tetapi bukan berarti kebutuhan tidur turun secara drastis.

NIH menyebut orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur. Pada usia lanjut, seseorang mungkin lebih sering terbangun pada malam hari atau tidur siang, tetapi kebutuhan tidurnya tidak otomatis menjadi jauh lebih sedikit.

Kebutuhan tidur setiap orang memang dapat berbeda berdasarkan usia dan kondisi masing-masing. Karena itu, yang penting bukan hanya menghitung durasi, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keteraturan tidur.

Pada akhirnya, tidak semua nasihat tentang tidur yang didengar sejak kecil sesuai dengan bukti ilmiah. Beberapa anggapan bahkan dapat membuat seseorang mengabaikan tanda-tanda kurang tidur atau gangguan tidur.

Memahami fakta di balik mitos tersebut bisa menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan tidur yang lebih sehat. Jika seseorang terus mengalami masalah tidur, mendengkur keras, atau merasa sangat mengantuk pada siang hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan dan dapat dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Baca juga: Bau ketiak saat bangun tidur? Ini penyebab dan cara mengatasinya

Baca juga: Dampak kafein pada kualitas tidur hingga jadwal rilis Galaxy S26 FE

Baca juga: Batas waktu mengonsumsi kafein pengaruhi kualitas tidur

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.