Penerapan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam mendorong guru untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga membantu siswa memahami konsep secara utuh, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari, serta mampu menerapkannya dalam berbagai situasi. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penyusunan modul ajar Deep Learning agar setiap tujuan, aktivitas, dan asesmen benar-benar mendukung proses belajar yang bermakna. Namun, dalam praktiknya, guru masih dapat melakukan beberapa kesalahan, seperti terlalu berfokus pada materi, menggunakan aktivitas yang kurang melibatkan siswa, hingga menyusun asesmen yang hanya mengukur hasil akhir.
Lantas, apa saja kesalahan yang sering terjadi dan bagaimana cara menghindarinya? Sebelum melihat contoh modul ajar Deep Learning yang dapat dijadikan referensi, guru perlu memahami terlebih dahulu berbagai kesalahan yang perlu dihindari agar modul yang disusun dapat diterapkan secara efektif di kelas.
Apa yang Dimaksud dengan Modul Ajar Deep Learning?
Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk tidak sekadar menghafal materi, tetapi memahami konsep secara lebih utuh, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari, serta menerapkannya dalam berbagai situasi. Pembelajaran ini menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam membangun pemahamannya.
Dalam penerapannya, modul ajar Deep Learning menjadi panduan bagi guru untuk merancang tujuan, aktivitas, asesmen, dan refleksi yang mendukung proses pembelajaran tersebut. Modul tidak harus memiliki format yang rumit atau seragam, tetapi perlu disusun sesuai tujuan pembelajaran, karakteristik dan kebutuhan siswa, materi, serta kondisi kelas. Dengan perencanaan yang tepat, modul ajar dapat membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa memahami materi, mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata, dan merefleksikan proses belajarnya.
7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Guru Saat Menyusun Modul Ajar Deep Learning
1. Menyusun Modul Ajar Hanya Berfokus pada Materi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah guru terlalu berfokus pada banyaknya materi yang harus diselesaikan. Modul ajar akhirnya lebih banyak berisi rangkuman materi, penjelasan konsep, dan tugas untuk mengukur apakah siswa sudah memahami materi tersebut. Padahal, pemahaman mendalam tidak hanya bertujuan membuat siswa mengetahui atau menghafal informasi, tetapi membantu siswa memahami konsep secara lebih utuh dan mampu menggunakannya dalam berbagai situasi.
Jika modul terlalu berorientasi pada penyelesaian materi, siswa dapat merasa bahwa pembelajaran hanya bertujuan mengejar target kurikulum. Guru dapat menghindarinya dengan menentukan terlebih dahulu pemahaman utama yang ingin diperoleh siswa. Setelah itu, materi dan aktivitas dipilih berdasarkan kebutuhan untuk mencapai pemahaman tersebut. Misalnya, pada materi energi, siswa tidak hanya diminta menghafalkan jenis-jenis energi, tetapi dapat diajak mengamati penggunaan energi di sekolah, mengidentifikasi pemborosan energi, kemudian menyusun solusi sederhana untuk menghemat energi.
2. Tujuan Pembelajaran Tidak Mengarah pada Pemahaman Mendalam
Tujuan pembelajaran menjadi dasar dalam menentukan kegiatan dan asesmen. Namun, kesalahan yang masih dapat ditemukan adalah tujuan pembelajaran yang terlalu umum atau hanya menekankan kemampuan mengingat informasi. Contohnya, tujuan seperti “siswa mengetahui penyebab perubahan iklim” belum cukup menggambarkan kemampuan yang perlu dikembangkan melalui pemahaman mendalam.
Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran yang Baik
Tujuan pembelajaran harus sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) nya, menggunakan kata kerja operasional serta satu perilaku yang diukur. Tujuan pembelajaran digunakan untuk mengetahui pencapaian siswa.
KejarpenaEpin Supini

Guru dapat menyusun tujuan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam memahami, menganalisis, menerapkan, mengevaluasi, atau menghasilkan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dipelajari. Tujuan tersebut juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa agar tetap realistis untuk dicapai. Misalnya, tujuan dapat diubah menjadi “siswa mampu menganalisis penyebab perubahan iklim di lingkungan sekitar dan mengusulkan tindakan sederhana untuk mengurangi dampaknya.” Dengan tujuan seperti ini, guru akan lebih mudah menentukan aktivitas pembelajaran dan bentuk asesmen yang relevan.
3. Aktivitas Pembelajaran Kurang Melibatkan Siswa
Modul ajar Deep Learning seharusnya memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Sayangnya, modul terkadang masih didominasi oleh kegiatan seperti guru menjelaskan materi, siswa mencatat, kemudian mengerjakan soal. Pola tersebut memang dapat digunakan dalam pembelajaran, tetapi jika terlalu dominan, kesempatan siswa untuk mengeksplorasi, berdiskusi, mencoba, dan menemukan pemahaman sendiri menjadi terbatas.
Untuk menghindari kesalahan ini, guru dapat memasukkan aktivitas yang mendorong siswa berpartisipasi secara aktif. Misalnya melalui diskusi kelompok, studi kasus, eksperimen, proyek, pemecahan masalah, presentasi, atau kegiatan investigasi sederhana. Aktivitas tidak harus selalu menggunakan metode yang rumit. Pertanyaan pemantik yang tepat dan masalah yang dekat dengan kehidupan siswa juga dapat menjadi awal yang baik untuk mendorong mereka berpikir lebih mendalam.

4. Konteks Pembelajaran Tidak Dekat dengan Kehidupan Siswa
Materi yang disampaikan tanpa konteks sering kali membuat siswa kesulitan memahami mengapa mereka perlu mempelajarinya. Mereka mungkin dapat menjawab soal berdasarkan teori, tetapi belum tentu mampu menghubungkan pengetahuan tersebut dengan situasi yang mereka temui sehari-hari. Padahal, salah satu hal penting dalam pembelajaran mendalam adalah membantu siswa menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman dan situasi nyata.
Karena itu, guru sebaiknya memasukkan konteks yang dekat dengan kehidupan siswa ketika menyusun modul ajar. Konteks tersebut dapat berasal dari lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, teknologi, atau permasalahan yang sedang mereka hadapi. Misalnya, pada materi matematika tentang persentase, guru dapat menggunakan contoh diskon saat berbelanja, pengelolaan uang saku, atau perhitungan tabungan. Dengan cara tersebut, siswa dapat melihat bahwa konsep yang dipelajari bukan sekadar teori, tetapi dapat digunakan untuk memahami dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5. Asesmen Hanya Mengukur Hasil Akhir
Kesalahan berikutnya adalah menggunakan asesmen hanya untuk mengetahui hasil belajar di akhir pembelajaran. Guru mungkin memberikan tes tertulis setelah materi selesai, tetapi tidak memberikan kesempatan untuk mengetahui pemahaman awal siswa, perkembangan mereka selama proses belajar, atau kesulitan yang muncul ketika mengerjakan aktivitas.
Padahal, asesmen dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan hanya alat untuk memberikan nilai. Guru dapat menggunakan asesmen awal untuk mengetahui pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, kemudian melakukan observasi selama diskusi atau kegiatan berlangsung. Penilaian juga dapat dilakukan melalui tugas, proyek, presentasi, jurnal refleksi, maupun tes sesuai kebutuhan. Yang terpenting, bentuk asesmen harus selaras dengan tujuan pembelajaran. Jika tujuan meminta siswa mampu memecahkan masalah, misalnya, asesmen sebaiknya tidak hanya berupa soal pilihan ganda, tetapi juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan proses berpikir dan solusi yang mereka buat.
6. Tidak Menyediakan Ruang untuk Refleksi Siswa
Setelah kegiatan pembelajaran dan asesmen selesai, guru terkadang langsung melanjutkan ke materi berikutnya. Padahal, siswa membutuhkan waktu untuk melihat kembali apa yang sudah dipelajari, bagian yang masih membingungkan, serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan. Refleksi membantu siswa menyadari proses belajarnya sehingga pembelajaran tidak berhenti pada menyelesaikan tugas.
Guru dapat menambahkan kegiatan refleksi sederhana di bagian akhir modul ajar. Tidak perlu membuat aktivitas yang panjang. Beberapa pertanyaan sederhana sudah cukup untuk membantu siswa berpikir kembali tentang proses belajarnya. Misalnya, “Apa hal baru yang kamu pahami hari ini?”, “Bagian mana yang masih sulit kamu pahami?”, atau “Bagaimana pengetahuan yang kamu dapatkan hari ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari?” Jawaban siswa juga dapat menjadi informasi bagi guru untuk menentukan tindak lanjut pada pembelajaran berikutnya.
7. Modul Ajar Terlalu Rumit dan Sulit Diterapkan
Kesalahan terakhir adalah menganggap bahwa modul ajar yang baik harus memiliki banyak aktivitas, metode, media, dan instrumen asesmen. Akibatnya, modul menjadi sangat panjang dan terlihat lengkap, tetapi justru sulit diterapkan di kelas. Guru dapat kesulitan mengatur waktu, siswa terlalu banyak berpindah aktivitas, atau kegiatan yang dirancang tidak sesuai dengan fasilitas yang tersedia di sekolah.
Modul ajar Deep Learning sebaiknya dibuat realistis, fleksibel, dan sesuai dengan kondisi kelas. Guru tidak perlu memasukkan terlalu banyak aktivitas jika semuanya tidak mendukung tujuan pembelajaran. Pilih kegiatan yang benar-benar membantu siswa memahami materi secara mendalam dan dapat dilakukan dengan sumber daya yang tersedia. Dengan begitu, modul tidak hanya terlihat baik secara dokumen, tetapi juga benar-benar dapat digunakan sebagai panduan pembelajaran di kelas.
Cara Membuat Modul Ajar Deep Learning yang Lebih Efektif
1. Tentukan Tujuan dan Pemahaman Utama
Mulailah dengan menentukan kemampuan dan pemahaman apa yang diharapkan dimiliki siswa setelah pembelajaran selesai. Tujuan sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemampuan mengingat materi, tetapi juga mendorong siswa untuk memahami, menganalisis, menerapkan, atau memecahkan masalah. Dengan tujuan yang jelas, guru akan lebih mudah menentukan aktivitas dan asesmen yang sesuai.
2. Kenali Karakteristik dan Kebutuhan Siswa
Modul ajar perlu disesuaikan dengan kondisi siswa, termasuk kemampuan awal, minat, pengalaman, serta kebutuhan belajarnya. Guru dapat menggunakan hasil asesmen awal untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa sebelum pembelajaran dimulai. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan tingkat kesulitan materi, bentuk aktivitas, maupun dukungan yang perlu diberikan kepada siswa.

3. Pilih Konteks yang Dekat dengan Kehidupan Siswa
Pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru dapat memasukkan masalah, fenomena, atau situasi yang dekat dengan lingkungan siswa ke dalam modul ajar. Misalnya, materi tentang pencemaran lingkungan dapat dikaitkan dengan kondisi kebersihan di sekitar sekolah agar siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melihat penerapannya.
4. Rancang Aktivitas yang Aktif dan Bermakna
Hindari membuat modul yang seluruh kegiatannya berpusat pada penjelasan guru. Berikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, melakukan eksperimen, mengamati, mencari informasi, mengerjakan proyek, atau memecahkan masalah. Aktivitas tersebut dapat membantu siswa membangun pemahamannya melalui pengalaman belajar secara langsung, bukan sekadar menerima informasi dari guru.
5. Siapkan Asesmen yang Sesuai
Asesmen perlu dirancang berdasarkan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang dilakukan siswa. Guru dapat menggunakan berbagai bentuk asesmen, seperti pertanyaan pemantik, observasi, tugas, proyek, presentasi, kuis, maupun tes. Dengan asesmen yang beragam, guru tidak hanya mengetahui hasil akhir belajar, tetapi juga dapat melihat proses dan perkembangan pemahaman siswa selama pembelajaran.
6. Tambahkan Kegiatan Refleksi
Refleksi menjadi bagian penting untuk membantu siswa menyadari apa yang telah dipelajari dan bagaimana proses belajarnya. Guru dapat memberikan pertanyaan sederhana seperti, “Apa hal baru yang kamu pahami hari ini?” atau “Bagaimana materi ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?” Hasil refleksi juga dapat membantu guru mengetahui bagian pembelajaran yang masih perlu diperbaiki atau diperdalam.
7. Pastikan Modul Fleksibel dan Mudah Diterapkan
Modul ajar tidak harus dibuat sangat panjang dan penuh dengan aktivitas. Yang terpenting, setiap kegiatan memiliki tujuan yang jelas dan realistis untuk dilakukan sesuai kondisi kelas. Guru perlu mempertimbangkan waktu, fasilitas, jumlah siswa, serta sumber belajar yang tersedia. Modul yang sederhana, fleksibel, dan mudah disesuaikan justru akan lebih membantu guru menerapkan Pembelajaran Mendalam secara konsisten.
Pendekatan Deep Learning: Strategi Guru Membentuk Siswa Kritis dan Kreatif
Deep learning berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi, dan penciptaan ide baru
KejarpenaAgnes Meilina

Kesimpulan:
Menyusun modul ajar Deep Learning tidak harus panjang dan rumit, tetapi perlu memastikan tujuan pembelajaran, aktivitas, asesmen, dan refleksi saling terhubung untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Guru juga perlu menghindari berbagai kesalahan dalam penyusunan modul ajar serta menyesuaikan isi, format, dan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan siswa dan kondisi kelas. Dengan perencanaan yang tepat, modul ajar dapat menjadi panduan yang membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dan mendalam bagi siswa.

Untuk membantu guru menyusun modul ajar Deep Learning yang sesuai dengan prinsip Pembelajaran Mendalam, kejarcita menyediakan Pelatihan Membuat Modul Ajar Berbasis Deep Learning yang dapat membantu guru memahami langkah-langkah penyusunan modul sekaligus menerapkannya dalam perencanaan pembelajaran. Jika sekolah atau guru membutuhkan pelatihan serupa maupun jenis pelatihan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, silakan hubungi admin kejarcita untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai program pelatihan yang tersedia.
- edukasi