7 efek samping pewarna rambut yang perlu diwaspadai sebelum mewarnai rambut
Jakarta (ANTARA) - Pewarna rambut menjadi salah satu produk kosmetik yang banyak digunakan untuk mengubah warna rambut atau menutupi uban. Meski umumnya aman jika digunakan sesuai petunjuk, pewarna rambut tetap berpotensi menimbulkan efek samping pada sebagian orang, terutama yang memiliki kulit sensitif atau alergi terhadap bahan tertentu.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengingatkan bahwa pengguna perlu mengikuti petunjuk pada kemasan, melakukan uji tempel (patch test) sebelum pemakaian, serta menghentikan penggunaan jika muncul reaksi yang tidak diinginkan.
Berikut tujuh efek samping pewarna rambut yang perlu diketahui:
1. Reaksi alergi
Salah satu efek samping yang paling sering terjadi adalah reaksi alergi akibat bahan kimia seperti para-phenylenediamine (PPD) yang banyak ditemukan pada pewarna rambut permanen. Gejalanya dapat berupa gatal, kemerahan, ruam, hingga pembengkakan pada kulit kepala, wajah, atau leher. Pada kasus yang berat, reaksi alergi dapat memerlukan penanganan medis segera.
Baca juga: Mewarnai rambut bisa tingkatkan risiko kanker payudara
2. Iritasi kulit kepala
Bahan kimia dalam pewarna rambut dapat menyebabkan iritasi pada kulit kepala, terutama apabila produk digunakan terlalu lama atau tidak sesuai petunjuk. Keluhan yang sering muncul meliputi rasa perih, panas, atau terbakar.
3. Rambut menjadi kering dan mudah patah
Proses pewarnaan, terutama yang menggunakan bahan kimia kuat atau disertai pemutihan (bleaching), dapat mengurangi kelembapan alami rambut. Akibatnya, rambut menjadi lebih kering, rapuh, bercabang, dan mudah patah.
4. Kerontokan rambut
Sebagian orang dapat mengalami kerontokan rambut setelah pewarnaan, terutama jika kulit kepala mengalami iritasi atau rambut telah rusak akibat paparan bahan kimia berulang. Kondisi ini umumnya bersifat sementara, tetapi perlu diperhatikan jika berlangsung terus-menerus.
5. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak merupakan peradangan pada kulit akibat paparan zat tertentu. Pada penggunaan pewarna rambut, kondisi ini dapat ditandai dengan kulit kemerahan, gatal, bersisik, hingga muncul lepuh pada area yang terkena produk.
Baca juga: Benarkah mewarnai rambut tingkatkan risiko kanker? Ini penjelasannya
6. Iritasi pada mata
FDA mengingatkan agar pewarna rambut tidak digunakan untuk mewarnai alis maupun bulu mata karena dapat menyebabkan cedera serius pada mata, bahkan berisiko menimbulkan gangguan penglihatan apabila produk masuk ke mata.
7. Risiko paparan bahan kimia jangka panjang
Sejumlah penelitian masih terus mengkaji hubungan antara penggunaan pewarna rambut dan risiko penyakit tertentu, termasuk kanker. Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa penggunaan pewarna rambut untuk keperluan pribadi secara langsung menyebabkan kanker.
Namun, paparan bahan kimia dalam jangka panjang, terutama pada pekerja salon yang sering terpapar, tetap menjadi perhatian dalam berbagai penelitian.
Cara mengurangi risiko efek samping
Agar penggunaan pewarna rambut lebih aman, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Lakukan uji tempel (patch test) setidaknya 48 jam sebelum penggunaan.
- Ikuti seluruh petunjuk pada kemasan produk.
- Gunakan sarung tangan saat mengaplikasikan pewarna rambut.
- Jangan mewarnai alis atau bulu mata dengan produk pewarna rambut.
- Bilas rambut hingga bersih setelah proses pewarnaan selesai.
- Hentikan penggunaan dan segera konsultasikan ke dokter apabila muncul reaksi alergi atau iritasi yang berat.
Dengan penggunaan yang tepat, pewarna rambut umumnya dapat digunakan dengan aman. Namun, mengenali kemungkinan efek samping serta mengikuti petunjuk penggunaan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko terhadap kesehatan.
Baca juga: Benarkah mencuci rambut setelah diwarnai bikin cepat pudar?
Baca juga: Hukum menyamarkan rambut uban dengan pewarna hitam dalam Islam
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.