Apakah Bunda pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki standar pribadi yang terlalu tinggi? Jika pernah, mungkin Bunda bertemu dengan orang yang perfeksionis. Mereka terkenal sebagai orang yang selalu memastikan bahwa segala hal yang dia lakukan harus mendapatkan hasil yang sempurna tanpa ada kesalahan. 

Dikutip dari Psychology Today, perfeksionisme merupakan sifat yang membuat seseorang terus menilai dirinya berdasarkan pencapaian dan penampilan, seakan-akan hidupnya adalah rapor yang harus mendapatkan nilai sempurna. Perfeksionisme didorong oleh tekanan internal, seperti keinginan untuk menghindari kegagalan atau khawatir akan penilaian buruk dari orang lain.

Kesempurnaan bisa menjadi pedang bermata dua. Jika sifat ini dikelola dengan baik, sifat ini dapat membantu seseorang untuk memotivasi diri sendiri serta mengatasi kesulitan saat berupaya mencapai kesuksesan. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, perfeksionisme justru dapat membuat seseorang menjadi mudah cemas hingga menghambat kesuksesannya. Hal ini karena mereka seringkali menetapkan standar yang terlalu tinggi dan sulit dicapai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Untuk melihat lebih jauh karakter orang yang perfeksionis, berikut tujuh ciri kepribadian orang perfeksionis yang sering menuntut diri sendiri yang dikutip dari Very Well Mind. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

1. Bersikap sangat kritis

Ciri kepribadian orang perfeksionis adalah seringkali lebih keras dalam menilai diri sendiri maupun orang lain. Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki prestasi tinggi, mereka malah biasanya bangga dengan pencapaiannya dan turut mendukung orang lain.

Orang perfeksionis selalu terpaku pada kesalahan dan kekurangan yang ada. Mereka lebih suka menghakimi dan bersikap keras pada diri sendiri dan orang lain ketika kegagalan terjadi. Padahal kesalahan atau kegagalan merupakan proses belajar untuk meningkatkan kualitas diri di berbagai aspek kehidupan.

2. Memiliki standar yang tidak realistis

Ciri lain dari orang perfeksionis adalah menetapkan tujuan yang tidak realistis, bahkan sulit dicapai. Orang berprestasi tinggi dapat menetapkan target setinggi mungkin namun tetap terjangkau oleh kemampuannya sendiri.

Orang perfeksionis seringkali menetapkan tujuan yang di luar jangkauan mereka. Akibatnya, ketika tujuan tersebut tidak tercapai mereka akan kecewa dan sulit memulai sesuatu yang baru. Bahkan, ketika sudah mencapai sesuatu, mereka tidak akan puas karena belum sesuai dengan standar yang diharapkan.

3. Hanya berfokus pada hasil

Orang yang berprestasi tinggi selalu menikmati proses mengejar tujuan. Mereka menghargai setiap perjalanan, baik suka maupun duka yang dilalui untuk mencapai tujuan. Ketika mereka mendapatkannya mereka akan merasa bahagia dan bersyukur.

Berbeda dengan orang perfeksionis yang hanya melihat hasil atau pencapaian. Mereka seringkali didorong oleh rasa takut akan sesuatu yang tidak sempurna. Akibatnya, kesalahan sekecil apa pun akan dianggap sebagai sebuah kegagalan. Dengan kondisi tersebut membuat mereka tidak dapat menikmati proses pertumbuhan dan perjuangan. 

4. Merasa depresi saat tujuan tak tercapai

Ciri orang perfeksionis sering merasa depresi atau kurang bahagia karena terlalu banyak menyalahkan diri sendiri. Mereka akan terpuruk dan tenggelam dalam perasaan negatif ketika mereka tidak bisa mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Orang perfeksionis yang sudah terpuruk akan kesulitan untuk melanjutkan hidup karena merasa semuanya tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Karena hal tersebut orang perfeksionis memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah.

5. Penundaan

Ciri orang perfeksionis adalah sering menunda sesuatu, terutama pekerjaan. Kepribadian ini tentunya akan merugikan produktivitas mereka sendiri. Penelitian menjelaskan bahwa ada yang disebut perfeksionisme maladaptif, sebuah sikap perfeksionis yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan situasi dengan lingkungannya.

Hal ini membuat mereka lebih sering menunda pekerjaan karena takut akan kegagalan dan khawatir akan sesuatu yang tidak sempurna. Kebiasaan menunda-nunda ini dapat menyebabkan seseorang merasa gagal, yang jika terus dibiarkan akan membentuk siklus yang tidak sehat hingga membuat seseorang merasa sulit melakukan apa pun. 

6. Rendah diri

Ciri orang perfeksionis lainnya adalah dari cara mereka memandang diri mereka sendiri. Orang perfeksionis mengevaluasi diri secara kritis atau berlebihan pada kekurangan. Kebiasaan ini dapat membuat rasa percaya diri mereka semakin rendah.

Orang perfeksionis sering tersiksa oleh sifat kritisnya sendiri, sikap yang terlalu kaku membuat mereka kesepian dan terisolasi dari orang lain. Hal ini dapat menurunkan harga diri seseorang yang berdampak pada citra diri, kepuasan hidup, serta hubungan dengan orang lain secara keseluruhan. 

7. Defensif 

Orang perfeksionis merasa tertekan ketika menerima peninjauan performa atau hasil kerja yang dianggap belum sempurna. Bagi mereka, hal tersebut merupakan sesuatu yang menyakitkan. Dan ketika mendapat kritik yang konstruktif mereka akan cenderung defensif.

Defensif sendiri merupakan sikap pertahanan diri yang dilakukan ketika kondisi dirasa tidak nyaman atau dianggap ancaman. Sebaliknya, orang berprestasi akan melihat kritik sebagai informasi yang berharga yang mampu meningkatkan performa mereka di masa depan. 

Itulah ciri kepribadian orang perfeksionis yang sering menuntut diri harus sempurna. Dengan mengenali dan mengelola sikap perfeksionisme, seseorang dapat memiliki ambisi tanpa mengabaikan kesejahteraan diri. Semoga membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)