Piknikdong.com, Edukasi – Jauh sebelum kereta modern melaju dengan teknologi canggih seperti sekarang, pembangunan jalur rel di Indonesia sudah menghadapi tantangan geografis yang tidak sederhana.
Advertisements
Pegunungan, bukit berbatu, hingga kawasan dengan kontur tanah yang sulit menjadi hambatan tersendiri bagi para pekerja yang bertugas membuka jalur transportasi baru.
Salah satu bukti kemampuan teknik pada masa itu adalah keberadaan terowongan kereta api yang dibangun sejak akhir abad ke-19.
Tanpa peralatan konstruksi secanggih sekarang, para pekerja harus menggali perbukitan, menembus lapisan batuan, dan memastikan jalur yang dibuat dapat dilalui kereta dengan aman.
Advertisements
Menariknya, sejumlah terowongan peninggalan masa kolonial tersebut masih bisa ditemukan hingga sekarang.
Sebarannya tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga Sumatera. Setiap terowongan memiliki latar belakang berbeda, mulai dari mendukung aktivitas perkebunan, mengangkut hasil tambang, hingga membuka akses transportasi antardaerah.
Advertisements
Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero), Anne Purba, menilai peninggalan tersebut menyimpan banyak cerita yang layak diketahui masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, pembangunan terowongan pada masa lalu bukan sekadar pekerjaan membuka jalur kereta. Prosesnya juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan teknik dan teknologi berkembang di tengah kondisi alam Indonesia yang menantang.
“Kalau sekarang kita melihat kereta api melewati terowongan, mungkin yang terpikir hanya jalur yang menembus bukit.
Padahal, lebih dari satu abad lalu, membangun terowongan membutuhkan proses yang sangat panjang. Ada perhitungan teknik, penggalian batuan, dan pekerjaan yang harus dilakukan dalam kondisi geografis yang sulit.
Sejarah tersebut menarik untuk dipelajari karena memperlihatkan perkembangan pengetahuan dan teknologi pada zamannya,” ujar Anne.
Lantas, terowongan mana saja yang masuk dalam daftar peninggalan perkeretaapian tertua di Indonesia? Berikut perjalanan menelusuri 10 terowongan bersejarah yang tersebar di Jawa dan Sumatera.
Daftar Isi!
- 1. Terowongan Lampegan, Jawa Barat (1879–1882)
- 2. Terowongan Ijo Lama, Jawa Tengah (1885–1886)
- 3. Terowongan Lembah Anai I, Sumatera Barat (1890–1891)
- 4. Terowongan Lembah Anai II, Sumatera Barat (1890–1891)
- 5. Terowongan Kupitan, Sumatera Barat (1892–1894)
- 6. Terowongan Lubang Kalam, Sumatera Barat (1892–1894)
- 7. Terowongan Garahan, Jawa Timur (1901–1902)
- 8. Terowongan Mrawan, Jawa Timur (1901–1902)
- 9. Terowongan Sasaksaat, Jawa Barat (1902–1903)
- 10. Terowongan Batulawang, Jawa Barat (1914)
- Pembangunan Terowongan Indonesia Beriringan dengan Kemajuan Teknologi Dunia
- Jejak Kereta Api dan Tambang Ombilin Diakui UNESCO
- 159 Tahun Perkeretaapian Indonesia, Warisan Sejarah Perlu Terus Dikenalkan
1. Terowongan Lampegan, Jawa Barat (1879–1882)
Terletak di kawasan Cianjur, Terowongan Lampegan memiliki panjang historis sekitar 686 meter. Namanya dikenal luas karena menjadi terowongan kereta api tertua di Indonesia.
Pembangunannya berkaitan dengan perluasan jalur kereta menuju kawasan Priangan. Pada masa itu, wilayah tersebut memiliki aktivitas perkebunan yang cukup penting sehingga membutuhkan sarana transportasi untuk mendukung pengangkutan hasil produksi.
Kontur perbukitan di sekitar Cianjur membuat pembangunan jalur rel tidak bisa dilakukan begitu saja. Terowongan Lampegan menjadi salah satu solusi untuk melewati hambatan alam sekaligus membuka konektivitas transportasi di kawasan tersebut.
2. Terowongan Ijo Lama, Jawa Tengah (1885–1886)
Bergeser ke Jawa Tengah, ada Terowongan Ijo Lama yang berada di wilayah Kebumen. Terowongan dengan panjang sekitar 580 meter ini merupakan bagian dari pengembangan jaringan kereta api di kawasan selatan Pulau Jawa.
Keberadaannya menunjukkan bagaimana pembangunan rel pada masa itu harus menyesuaikan diri dengan kondisi perbukitan. Jalur kereta membutuhkan sejumlah rekayasa agar dapat menghubungkan kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi.
Hingga kini, Terowongan Ijo menjadi salah satu peninggalan yang menarik untuk mengenal perkembangan transportasi kereta api di wilayah selatan Jawa.
3. Terowongan Lembah Anai I, Sumatera Barat (1890–1891)
Tidak hanya di Jawa, pembangunan terowongan kereta api pada masa kolonial juga berlangsung di Sumatera Barat. Salah satunya adalah Terowongan Lembah Anai I yang memiliki panjang historis sekitar 100 meter.
Terowongan ini berada di kawasan Lembah Anai, wilayah yang dikenal memiliki bentang alam berupa perbukitan dan jalur pegunungan.
Pembangunannya menjadi bagian dari upaya membuka akses transportasi antara kawasan pedalaman Minangkabau dan wilayah pesisir. Kehadiran jalur kereta di kawasan ini memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas serta kegiatan ekonomi masyarakat.
4. Terowongan Lembah Anai II, Sumatera Barat (1890–1891)
Masih berada di kawasan Lembah Anai, terdapat terowongan kedua yang memiliki panjang sekitar 200 meter. Keduanya menjadi bagian dari jalur kereta api yang harus menghadapi medan pegunungan dengan tingkat kemiringan cukup menantang.
Kondisi geografis Sumatera Barat memang membutuhkan pendekatan teknik yang berbeda dibandingkan pembangunan rel di kawasan dataran rendah.
Selain terowongan, jalur kereta di wilayah ini juga memanfaatkan teknologi rel bergigi atau rack railway. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu lokomotif melewati tanjakan yang curam.
Kombinasi rekayasa jalur dan pembangunan terowongan memperlihatkan bagaimana para insinyur pada masa itu berusaha menyesuaikan teknologi perkeretaapian dengan karakter alam setempat.
5. Terowongan Kupitan, Sumatera Barat (1892–1894)
Terowongan berikutnya adalah Kupitan yang memiliki panjang sekitar 600 meter. Lokasinya berada pada jalur Muara Kalaban–Padang Sibusuk di Sumatera Barat.
Pembangunan terowongan ini tidak terlepas dari pengembangan jaringan kereta api untuk memperlancar hubungan antarkawasan. Transportasi rel pada masa tersebut memiliki peran penting dalam mendukung distribusi berbagai komoditas.
Dengan adanya jalur yang mampu menembus kawasan perbukitan, perjalanan dan pengangkutan barang dapat dilakukan melalui jaringan transportasi yang lebih terhubung.
Terowongan Kupitan pun menjadi bagian dari catatan panjang pembangunan infrastruktur kereta api di Sumatera Barat pada akhir abad ke-19.
6. Terowongan Lubang Kalam, Sumatera Barat (1892–1894)
Dari seluruh terowongan di Sumatera Barat, Lubang Kalam memiliki hubungan sejarah yang sangat erat dengan industri pertambangan batu bara Ombilin di Sawahlunto.
Terowongan yang berada pada jalur Sawahlunto–Muara Kalaban ini memiliki panjang sekitar 828 meter berdasarkan dokumen nominasi UNESCO.
Pada masa operasionalnya, jaringan kereta api menjadi bagian penting dari sistem distribusi batu bara. Hasil tambang dari kawasan pedalaman Sumatera Barat diangkut menuju Pelabuhan Emmahaven, yang sekarang dikenal sebagai Teluk Bayur, untuk selanjutnya diperdagangkan ke berbagai wilayah.
Artinya, pembangunan Lubang Kalam bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan transportasi lokal. Infrastruktur ini juga memiliki peran dalam mendukung aktivitas perdagangan internasional pada masa kolonial.
Jejak sejarah tersebut semakin menarik karena jalur kereta api dan pertambangan Ombilin kini menjadi bagian dari Warisan Dunia UNESCO.
7. Terowongan Garahan, Jawa Timur (1901–1902)
Memasuki awal abad ke-20, pembangunan jalur kereta api terus berkembang hingga wilayah timur Pulau Jawa. Salah satu peninggalannya adalah Terowongan Garahan yang berada di lintas Jember–Banyuwangi.
Panjang terowongan ini sekitar 113 meter. Lokasinya berada di kawasan pegunungan yang membutuhkan pembangunan infrastruktur khusus agar jalur rel dapat melewati kontur tanah yang tidak rata.
Terowongan Garahan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah konektivitas wilayah timur Jawa. Keberadaannya juga memperlihatkan upaya pembangunan transportasi yang terus menjangkau daerah dengan kondisi geografis beragam.
8. Terowongan Mrawan, Jawa Timur (1901–1902)
Masih berada di kawasan penghubung Jember dan Banyuwangi, Terowongan Mrawan memiliki ukuran yang jauh lebih panjang dibandingkan Garahan, yakni sekitar 690 meter.
Terowongan ini dibangun dengan menembus kawasan Gunung Gumitir. Salah satu hal menarik dari proses pengerjaannya adalah penggalian yang dilakukan dari dua arah berbeda.
Metode tersebut digunakan untuk mempercepat pekerjaan sekaligus memastikan kedua sisi penggalian dapat bertemu di dalam bukit.
Kini, Mrawan menjadi salah satu peninggalan yang menggambarkan besarnya tantangan pembangunan jalur kereta api di kawasan pegunungan Jawa Timur pada awal abad ke-20.
9. Terowongan Sasaksaat, Jawa Barat (1902–1903)
Terowongan Sasaksaat memiliki panjang sekitar 949 meter dan berada pada jalur Purwakarta–Padalarang. Ukurannya menjadikannya salah satu terowongan bersejarah dengan panjang yang cukup menonjol di Indonesia.
Catatan sejarah KAI mengungkapkan bahwa penggalian dilakukan dari dua sisi bukit. Namun, prosesnya tidak selalu berjalan mudah karena para pekerja harus berhadapan dengan lapisan batuan cadas.
Untuk menghindari risiko terhadap kestabilan tanah, pengeboran pada bagian berbatu dilakukan secara manual. Penggunaan bahan peledak maupun mesin dikhawatirkan dapat memengaruhi kondisi struktur tanah di sekitar terowongan.
Pekerjaan tersebut juga didukung penerangan listrik yang bersumber dari dinamo. Hal ini menjadi gambaran menarik mengenai penerapan teknologi pada proyek pembangunan infrastruktur di awal abad ke-20.
Dengan panjang hampir satu kilometer, Sasaksaat menjadi salah satu bukti kemampuan teknik konstruksi perkeretaapian pada masa tersebut.
10. Terowongan Batulawang, Jawa Barat (1914)
Daftar terakhir adalah Terowongan Batulawang yang memiliki panjang historis sekitar 281,5 meter. Terowongan ini berada di bekas jalur kereta api Banjar–Cijulang, Jawa Barat.
Pembangunan jalur tersebut bertujuan menghubungkan kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi yang lebih luas. Kehadirannya dahulu menjadi bagian dari pengembangan akses perjalanan dan distribusi barang di wilayah tersebut.
Berbeda dengan sejumlah terowongan yang masih menjadi bagian dari jalur aktif, Batulawang merupakan peninggalan dari jaringan kereta api yang sudah tidak beroperasi.
Meski demikian, keberadaannya tetap memiliki nilai sejarah karena menjadi saksi perkembangan transportasi rel di kawasan selatan Jawa Barat.
Pembangunan Terowongan Indonesia Beriringan dengan Kemajuan Teknologi Dunia
Jika melihat rentang waktu pembangunannya, sejumlah terowongan kereta api di Indonesia ternyata hadir pada periode yang berdekatan dengan proyek infrastruktur besar di berbagai negara.
Di Swiss, Terowongan Gotthard dengan panjang sekitar 15 kilometer mulai dibuka pada 1882. Sementara itu, Terowongan Simplon yang panjangnya sekitar 19,8 kilometer mulai beroperasi pada 1906.
Pada periode tersebut, pembangunan terowongan di Indonesia juga berlangsung dengan tantangan tersendiri. Kondisi alam tropis, struktur perbukitan, serta kebutuhan menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi membuat pengerjaan jalur kereta membutuhkan perencanaan teknik yang matang.
Perbandingan ini memberikan gambaran bahwa perkembangan transportasi rel di Indonesia merupakan bagian dari perjalanan teknologi perkeretaapian dunia, meskipun kondisi geografis dan skala pembangunannya berbeda.
Jejak Kereta Api dan Tambang Ombilin Diakui UNESCO
Salah satu bukti penting hubungan antara transportasi kereta api dan perkembangan industri dunia dapat ditemukan di Sumatera Barat.
Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2019. Kawasan ini mencakup berbagai peninggalan yang saling terhubung, mulai dari fasilitas pertambangan, jaringan transportasi kereta api, hingga infrastruktur pelabuhan.
Sistem tersebut dahulu dirancang untuk mendukung pengangkutan batu bara dari kawasan pedalaman menuju pelabuhan sebelum didistribusikan ke pasar internasional.
Namun, sejarah Ombilin tidak hanya berkaitan dengan pencapaian teknologi dan kegiatan ekonomi. Ada pula kisah kehidupan para pekerja, termasuk buruh paksa, yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah kawasan tersebut.
Karena itu, peninggalan perkeretaapian dan pertambangan perlu dipahami secara menyeluruh. Bukan hanya sebagai bukti kemajuan konstruksi, tetapi juga sebagai pengingat mengenai kondisi sosial masyarakat pada masa pembangunannya.
Anne Purba menjelaskan bahwa berbagai peninggalan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan dari banyak bidang. Mulai dari teknik sipil, geologi, transportasi, sejarah ekonomi, hingga perkembangan perdagangan internasional.
Dokumentasi dan penyampaian informasi yang tepat juga diperlukan agar masyarakat dapat memahami nilai sejarah setiap peninggalan sesuai konteksnya.
“Dari terowongan di Jawa hingga jalur pertambangan bersejarah di Sumatera, kita dapat melihat bagaimana pembangunan transportasi pada masa lalu berkaitan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi dunia. Ada pula cerita sosial yang perlu dipahami secara utuh.
Kami berharap warisan perkeretaapian ini terus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah Indonesia dari berbagai sudut,” jelas Anne.
159 Tahun Perkeretaapian Indonesia, Warisan Sejarah Perlu Terus Dikenalkan
Memasuki usia 159 tahun perkeretaapian Indonesia pada 2026, keberadaan terowongan-terowongan bersejarah tersebut menjadi bagian penting untuk melihat perjalanan panjang transportasi rel di Tanah Air.
Sebagian terowongan masih digunakan dalam jaringan perjalanan kereta api hingga sekarang. Sementara itu, beberapa lainnya menjadi peninggalan dari jalur lama yang sudah tidak lagi beroperasi.
Perbedaan kondisi tersebut tidak mengurangi nilai sejarahnya. Setiap terowongan menyimpan informasi mengenai perkembangan teknologi, proses pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan transportasi masyarakat pada masanya.
KAI berharap pengenalan sejarah perkeretaapian dapat terus dilakukan melalui berbagai sarana, termasuk arsip, dokumentasi, museum, dan kerja sama dengan pihak-pihak terkait.
“Sejarah perkeretaapian Indonesia menyimpan banyak pengetahuan yang masih relevan untuk dipelajari. Melalui arsip, dokumentasi, museum, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, KAI ingin membantu masyarakat mengenal perjalanan teknologi transportasi dari masa ke masa.
Setiap peninggalan mempunyai cerita, dan cerita itu patut diteruskan kepada generasi berikutnya,” tutup Anne.
Bagi masyarakat yang tertarik dengan sejarah maupun perjalanan kereta api, keberadaan terowongan-terowongan ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sisi lain perkembangan transportasi Indonesia.
Di balik perjalanan kereta yang berlangsung setiap hari, ada sejarah panjang pembangunan yang membentuk jaringan perkeretaapian seperti yang kita kenal sekarang.